TAWAKKAL

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. “ (QS. Al – Ahzab : 33)
Ber-Tawakkal kepada Allah (tawakkal ‘Alallah), merupakan perintah yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an, di samping perintah-perintah lainnya seperti bertaqwa, bersabar, beristiqomah, ikhlas dan beribadah, ridho dalam menerima ketetapan Tuhan, berlaku adil, berjihad pada jalan-Nya, berkurban dan lain-lain.
Arti dan Makna
Tawakal (bahasa Arab: tawakkul) berarti mewakilkan atau menyerahkan. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Tawakkal adalah buah dari keimanan. Setiap orang yang beriman akan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan akan ridha dengan segala kehendak-Nya. Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala kejutan. Hatinya tenang dan tenteram, karena yakin akan keadilan dan rahmat Allah SWT. Oleh sebab itu Islam menetapkan bahwa iman harus diikuti oleh sikap tawakkal. Allah SWT berfirman :
“…… dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Maidah : 23)
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Tawakkal dan Ikhtiar
Tawakkal harus diawali dengan tekad yang bulat (azzam), kerja keras dan usaha maksimal. Kerja keras dan usaha maksimal inilah yang disebut dengan ikhtiar. Tidaklah dinamai tawakkal jika tanpa disertai ikhtiar yang hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa. Sikap pasrah seperti itu adalah salah satu kesalahpahaman terhadap hakikat tawakkal.
Ikhtiar harus dilakukan dalam setiap dimensi kehidupan seorang muslim, ketika bekerja, menuntut ilmu, sampai ibadah yang diniatkan untuk mendapat keridhoan Allah SWT. Bahkan ketika seorang berdosa yang kemudian bertaubat, ia harus berikhtiar sekuat tenaga untuk memperbaiki dirinya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar taubatnya diterima.
Sedangkan kebulatan tekad (azzam), dapat menentukan tingkat kualitas pekerjaannya. Semakin kuat azzam seseorang, maka usahanya akan semakin kuat, sebaliknya jika azzamnya lemah, maka usahanya juga tidaka akan maksimal.
“….kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)
Jangan bertawakkal pada ikhtiar
Sekalipun kita diharuskan melakukan ikhtiar sebelum bertawakkal, untuk mengikuti hukum sebab akibat, tetapi kita tidak boleh bertawakkal pada ikhtiar. Karena dalam ber-ikhtiar, seorang muslim harus selalu diniatkan karena Allah semata.
Janganlah seperti orang-orang kafir yang bertawakkal pada ikhtiarnya. Inilah letak perbedaan yang jelas antara seorang muslim dengan seorang kafir yang sama-sama berusaha mencari rizki. Seorang muslim ketika dia telah berusaha sekuat tenaganya, maka ia akan menyerahkan segala hasil dari kerja kerasnya kepada Tuhannya dengan bertawakkal, karena dari awal memang diniatkan karena Allah SWT.. Sedangkan seorang kafir, dia akan bertawakkal pada hasil usahanya.
“ (Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (QS. At-Taghabun : 13.)
Contoh tawakkal
Contoh tawakkal adalah, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, “Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah”. Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, “Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal.” (Al-Hadits)
Kondisi Derajat Tawakkal
Ditinjau dari segi kekuatan dan kelemahan maka, kadar tawakkal ada tiga tingkatan :
1. Tingkatan pertama, keadaan benar-benar yakin terhadap penyerahannya kepada Allah dan pertolongan-Nya. Seperti keadaanya yang yakin terhadap orang yang ditunjuk sebagai wakilnya. Untuk memilih wakil harus selektif melalui proses pemikiran dan pertimbangan.
2. Tingkatan kedua, (tingkatan ini lebih kuat lagi), yaitu keadaanya bersama Allah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya. Anak itu tidak melihat orang lain selain ibunya dan tidak mau berpisah dan senantiasa bergelayut memegangi tangan ibunya. Tidak mau bersandar kecuali kepada ibunya sendiri. Jika ia menghadapi suatu masalah, maka pertama sekali yang terlintas dalam hatinya dan yang pertamakali terlontar dari lidahnya adalah ucapan “ibu”. Siapa yang pasrah kepada Allah, memandang dan bersandar kepada-Nya, maka keadaanya seperti keadaan anak kecil dengan ibunya, kepasrahan anak kecil kepada ibunya tidak berdasarkan pemikiran dan pertimbangan, hanya kepercayaan yang penuh dan bulat.
3. Tingkatan ketiga, (tingkatan paling tinggi) keadaannya dihadapan Allah seperti mayit ditangan orang yang memandikannya. Dia tidak berpisah dengan Allah melainkan dia melihat dirinya seperti orang mati.
Hikmah tawakkal
Manfaat dari tawakkal adalah sebagai berikut :
1. Iman semakin mantap, qalbu tenang, jiwa tenteram, berfikir jernih, pandangan jauh dan dalam bertindak terarah dan terbimbing.

“Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang yang dikehendaki-Nya” (QS. At Thalaq 33).

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya” (QS. An Nahl:99)

2. Mendapat jaminan kecukupan rizki dari Allah

“Dan tidak ada satu binatang melatapun dimuka bumi ini melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.”(Qs. Hud:6)

3. Ridho terhadap ketetapan (qadar) Allah, jauh dari tamak dan hasud.
Penutup
Demikianlah, bagaimana Allah mengajarkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berusaha dalam hidup, kemudian bertawakkal pada-Nya. Cukup hanya kepada Allah sajalah kita mengharap setiap balasan dari setiap amaliyah yang kita lakukan, untuk mendapat keridhoan serta rahmat dari-Nya, sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, sesuai firman Allah SWT :

”……Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath – Thalaq : 3)
Wallahua’lam bishshowwab

Dalil dalam Al-Qur’an tentang Tawakkal : 3:122, 3:159, 3:160, 3:173, 4:81, 5:11, 5:23, 7:89, 8:2, 8:49, 8:61, 9:51, 9:59, 9:129, 10:71, 10:84, 10:85, 11:56, 11:88, 11:123, 12:67, 13:30, 14:11, 14:12, 16:42, 16:99, 25:58, 26:217, 27:79, 29:59, 33:3, 33:48, 39:38, 42:10, 42:36, 58:10, 60:4, 64:13, 65:3, 67:29, 73:9

Tentang mitsubit

I'm a worker and student
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s