JAM’UL QUR’AN (MASA DIBUKUKANNYA AL – QUR’AN)

DIBUKUKANNYA AL – QUR’AN
(JAM’UL QUR’AN)

MAKNA JAM’UL QUR’AN
Jam’ul Qur’an (Pengumpulan Al–Qur’an) oleh para ulama diartikan menjadi dua makna:
1. Pengumpulan dalam arti Hifzuhu (menghafal dalam hati)
Rasulullah SAW adalah penghafal Qur’an pertama dan contoh paling baik bagi sahabat dalam menghafal Qur’an, sebagai realisasi dari kecintaan mereka terhadap pokok agama dan sumber risalah. Para sahabat selalu berkompetisi dalam menghafal Qur’an, bahkan memerintahkan anak dan istrinya dalam mengahafalnya. Mereka membaca dalam Qiyamul–lail, sehingga dari rumah mereka suara bacaan Al–Qur’an terdengar seperti suara lebah.
Sahabat yang terkenal dalam bidang hafalan Qur’an (hafidz) ada 7 orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Mua’qqil, Muadz bin Jabal, Ubay Bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sukun, dan Abu Darda’. Hal ini disebutkan dalam tiga dari dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di bawah ini:
1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As berkata: “ Aku mendengar Rasulullah berkata: ‘Ambillah Al–qur’an itu dari empat orang: Abdullah Bin Mas’ud, Salim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.”’
2. Dari Anas berkata: ”Rasulullah wafat sedang qur’an belum dihafal kecuali oleh empat orang: Abu Darda, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabin dan Abu Zaid.”
2. Pengumpulan dalam arti Kitabatuhu kullihi (penulisan Al–qur’an keseluruhan)
Pengumpulan Al-qur’an terdiri tiga periode, yaitu Masa Rasulullah SAW, Masa Khalifah Abu Bakar dan Masa Khalifah Utsman Bin Affan.
Pengumpulan pada Masa Rasulullah SAW
Rasulullah telah mengangkat para sahabat sebagai penulis wahyu. Diantara mereka adalah ‘Ali, Muawiyah, Ubay Bin Ka’ab dan Zaid Bin Tsabit. Bila turun ayat, Rasulullah memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam suatu surat. Hal itu sesuai dengan anjuran Jibril ‘alaihissalam. Para sahabat menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun, pelana atau potongan tulang binatang. Karena keterbatasan media, sehingga pada masa itu Al–qur’an belum rapi dan belum berbentuk mushaf.
Pengumpulan pada Masa Khalifah Abu Bakar
Penulisan Al–qur’an pada masa Abu Bakar adalah dalam rangka menjaga keutuhan Al–qur’an agar tidak hilang, seiring dengan banyaknya para penghafal Al–qur’an yang syahid di medan perang.
Abu Bakar menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW. Ia dihadapkan pada peristiwa–peristiwa berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang yang murtad itu. Perang Yamamah terjadi pada tahun ke 12 hijriah melibatkan sejumlah besar penghafal Al–qur’an. Dalam peperangan ini sejumlah 70 penghafal Al–qur’an gugur.
Dengan kejadian tesebut, Umar bin Kahattab merasa khawatir jika peperangan di tempat lain akan membunuh banyak penghafal Al–qur’an. Ia lalu menghadap kepada Abu Bakar untuk mengajukan usul agar mengumpulkan dan membukukan Al–qur’an, karena dikhawatirkan akan musnah.
Abu Bakar menolak usulan ini karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tatapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah SWT membuka hati Abu Bakar untuk menerima usdulan tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk melakukan tugas tersebut. Pada awalnya Zaid menolak, keduanya bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan itu. Zaid memulai tugas beratnya dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para penghafal dan catatan yang ada pada penulis. Kemudian lembaran–lembaran tersebut disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 Hijriah, kemudian berpindah ke tangan Umar hingga ia wafat. Kemudian berpindah ke tangan Hafsah, putri Umar. Pada permulaan kepemimpinan Khalifah Utsman, Utsman memintanya dari tangan Hafsah.
Pengumpulan pada Masa Khalifah Utsman bin ‘Affan
Penulisan pada masa Usman terjadi pada tahun 25 Hijriah. Penulisan pada masa ini adalah dalam rangka menyatukan berbagai macam perbedaan bacaan yang beredar di masyarakat saat itu. Ketika terjadi perang Armenia dan zarbaijan dengan penduduk Irak, di antara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara–cara membaca Al–qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing–masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang dilihatnya.
Dengan keadaan demikian, Utsman pun khawatir bahwa akan adanya perbedaan bacaan pada anak–anak nantinya. Para sahabat memprihatinkan kenyataan karena takut kalau ada penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran–lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran–lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf.
Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf yang ada padanya. Kemudian Utsman membentuk panitia yang beranggotakan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir adalah suku Quraisy. Lalu memerintahkan mereka untuk memperbanyak mushaf. Nasehat Utsman kepada mereka:
1. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al–qur’an
2. Jika ada perselisihan di antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan dalam dialek suku Quraisy, sebab Al–qur’an diturunkan menurut dialek mereka .
Mereka melaksanakan perintah tersebut. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran asli kepada Hafsah. Al–qur’an yang telah dibukua dinamai dengan “Al – Mushaf”, dan panitia membuat lima buah mushaf. Empat di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah, agar di tempat – tepat itu disalin pula, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai Mushaf “Al–Imam”, dan memerintahkan agar semua Al–qur’an atau mushaf yang ada dibakar.
Dengan demikian, dibukukannya Al–qur’an di masa Utsman manfaatnya yang utama adalah:
1. menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan dan tulisannya.
2. menyatukan bacaan, dan kendatipun masih ada kelainan bacaan, tetapi tidak tidak bertentangan dengan ejaan mushaf–mushaf Utsman.
3. menyatukan tertib susunan surat–surat.
Sebab–sebab Al–qur’an belum dibukukan semasa Rasulullah SAW hidup
Sebab–sebab mengapa Al–qur’an belum dibukukan pada masa Nabi saw masih hidup adalah:
1. Al–qur’an diturunkan secara berangsur–angsur dan terpisah–pisah.
2. Sebagian ayat ada yang dimansukh. Mansukh dan nasikh adalah menurut para ulama salaf pada umumnya adalah pembatalan hukum secara global, dan itu merupakan istilah para ulama muta’akhirin (belakangan); atau pembatalan dalalah (aspek dalil) yang umum, mutlak dan nyata. Pembatalan ini dapat berupa pengkhususan atau pemberian syarat tertentu, atau mengartikan yang mutlak menjadi yang terikat dengan suatu syarat, menafsirkannya dan menjelaskannya.
3. Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya.
4. Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasulullah adalah sangat dekat.
Demikianlah periode masa dibukukannya Al–qur’an, sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan sampai dengan Al–qur’an yang ada pada sekarang. Bahkan sampai saat ini, dengan adanya mushaf Al–qur’an, Al–qur’an menjadi satu–satunya buku yang paling banyak dihafal oleh manusia di dunia, baik sebagian maupun keseluruhan isinya. Sehingga keberadaan dan kemurnian Al–qur’an akan selalu terjaga sampai hari kiamat sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al – qur’an, dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya.”. (Qs. Al–Hijr : 9)

Allahua’lam bishshowwab

Tentang mitsubit

I'm a worker and student
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s