HAJI MABRUR

Menyongsong puncak musim haji 1432 H, teringat sebuah kisah. Cerita tentang sebuah pengorbanan seorang tabi’in, Abdullah bin Mubarok, semoga bermanfaat.

Dikisahkan pada suatu hari, Abdullah bin Mubarok hendak berangkat haji. Namun di tengah perjalanan beliau bertemu dengan seorang janda yang sedang mengumpulkan daging bangkai.

Dialog pun terjadi di antara mereka:
Abdullah : “Wahai ibu, mengapa anda mengumpulkan daging bangkai, bukankah anda tahu kalau bangkai itu haram dimakan?”
Fulanah : “Wahai tuan, daging ini haram untuk anda. Tetapi ini halal untukku. Di rumahku terdapat banyak anak yatim, dan mereka sedang kelaparan. Jika kami tidak makan ini, maka kami akan mati sia-sia.”

Mendengar jawaban wanita tersebut, Abdullah pun minta dibawa ke rumah yang dimaksud. Sesampainya di sana, memang benar terdapat banyak anak yang sedang kelaparan. Mereka memegang perut sambil berkata, “Ya Allah, berilah kami makanan.”

Melihat hal tersebut, Abdullah mengurungkan niatnya untuk pergi haji, kemudian menyedekahkan semua uang yang tadinya akan digunakan sebagai ongkos untuk pergi haji kepada mereka.

Sepulang dari musim haji, orang-orang berkata, “Aku melihat Abdullah bin Mubarok sedang thawaf.” Yang lainnya berkata, “Aku makan bersama Abdullah bin Mubarok di Arafah.”

Malam harinya, Abdullah bermimpi, ia didatangi Rasulullah saw. Dalam mimpinya Rasulullah berkata, “Malaikat menggantikan Abdullah bin Mubarok berhaji.”
SUBHANALLAH

Allahua’lam bishshowwab

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

PESAN ORANG TUA SHOLEH KEPADA ANAKNYA

“Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
“ (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”


(QS. Luqman : 12-17)

Pesan di atas sesungguhnya memang disampaikan Luqman untuk anaknya, akan tetapi dimensinya menjadi lebih luas ketika peristiwa ini termaktub dalam Al-Qur’an. Dimana pesan tersebut hanyalah sebuah perumpamaan yang hendaknya dijadikan sebuah pedoman bagi semua orang tua yang ingin memberi nasehat pada anak-anaknya. Pesan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
• Agar menjadi manusia yang senantiasa bersyukur
• Jangan sekali-kali mempersekutukan Allah
• Berbuat baik pada kedua orang tua
• Allah SWT akan membalas setiap perbuatan hamba-Nya baik atau buruk walaupun seberat biji sawi
• Mendirikan sholat dan agar ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Allahua’lam bishshowwab.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

3 GOLONGAN MANUSIA MENYIKAPI AL-QUR’AN

Al-Qur’an dikenal sebagai kitab suci Umat Islam. Padahal sejatinya, Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup bagi seluruh manusia di dunia hingga akhir zaman. Karena memang begitulah, sejak diturunkannya, ia menjadi hudallilmuttaqiin, (petunjuk bagi orang-orang bertaqwa).

Mengapa hanya bagi orang bertaqwa? Karena hanya orang bertaqwa-lah yang bisa mengambil pelajaran dan laa-roiba-fiih (tidak ada keraguan dalam hati mereka) terhadap kebenaran Al-Qur’an.

Berikut adalah Golongan Manusia dalam menyikapi Al-Qur’an dan ciri-cirinya:

GOLONGAN PERTAMA : GOLONGAN MU’MIN
QS. AL-BAQOROH : 2, 3, 4, 5

Ciri-ciri :

  1. Bertaqwa (QS. 2:2)
  2. Beriman pada yang ghaib, mendirikan Sholat, menafkahkan sebagian rizki (QS.2:3)
  3. .Beriman pada Al-Qur’an dan hari akhirat (QS.2:4)
  4. Orang–orang yang mendapat petunjuk (QS.2:5)
GOLONGAN KEDUA: GOLONGAN KAFIR
QS. AL-BAQOROH : 6 – 8

Ciri – ciri :

  1. Tidak akan beriman baik diberi atau tidak diberi peringatan (QS.2:6)
  2. .Allah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, matanya ditutup rapat. (QS.2:3)
  3. Bagi mereka siksa yang berat. (QS.2:3)
GOLONGAN KETIGA : GOLONGAN MUNAFIQ
QS. AL-BAQOROH : 8 – 20
Ciri – ciri :
  1. Munafik (mengatakan apa yang tidak dikerjakan, mengaku beriman padahal tidak) (QS.2:8)
  2. Suka menipu Allah dan orang beriman, karena menipu orang beriman sama dengan menipu Allah (padahal mereka menipu diri mereka sendiri) (QS.2:9)
  3. Dalam hatinya ada penyakit (QS.2:10)
  4. Suka berbuat kerusakan di bumi (QS.2:11-12)
  5. Suka mengolok-olok orang beriman (QS.2:13-14)
  6. Terombang-ambing dalam kesesatan  (QS.2:15-16)
  7. Perumpamaan golongan ini :
  • Seperti menyalakan api, tetapi hilang cahayanya (QS.2:17)
  • Tuli, bisu, buta (hatinya) (QS.2:18)
  • Seperti orang yang berjalan di tengah hujan lebat, gelap dan diliputi guruh dan kilat, setiap mendengar petir mereka menyumbat telinganya. Ketika ada kilat mereka berjalan dengan sinar kilat itu, jika gelap mereka berhenti. (QS.2:19-20)

Allahua’lam bishshowwab.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

MACAM-MACAM HATI

 

Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah:  “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

1. Hati yang sehat

Yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati. Firman Allah: “(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat kecuali siapa yang datang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (Asy-Syura: 88-89)

Ayat ini sangatlah mengesankan, di sela-sela harta benda yang diburu dan dikejar-kejar orang, dan anak-anak laki-laki yang sukses dengan materinya dan sangat dibanggakan, ternyata itu semua tidak akan memberi manfaat kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat

Yaitu selamat dari semua nafsu syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan laranganNya, dan dari semua syubhat yang memalingkan dari kebenaran, selamat dari peribadatan dan penghambaan diri kepada selain Allah, selamat dari berhukum dengan hukum yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikhlaskan seluruh peribadatannya hanya karena Allah, iradahnya, kecintaannya, tawakkalnya, taubatnya, ibadah dalam bentuk sembelihannya, takutnya, raja’nya, diikhlaskannya semua amal hanya kepada Allah

Apabila ia mencintai maka cintanya karena Allah,
apabila ia membenci maka bencinya karena Allah,
apabila ia memberi maka memberinya karena Allah,
apabila menolak maka menolaknya karena Allah.
Dan tidak hanya cukup dengan ini, sampai ia berlepas diri dari semua bentuk keterikatan dan berhukum yang menyelisihi contoh dari Rasulullah. Maka hatinya sangat tertarik dengan ikatan yang kuat atas dasar mengikuti jejak langkah Rasulullah semata, dan tidak mendahulukan yang lainnya baik ucapan maupun perbuatannya

Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)

2. Hati yang mati

Yaitu kebalikan dari hati yang sehat, hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang perintahkanNya, dicintaiNya dan diridhai-Nya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah

Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah

Orang yang demikian menjadikan hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi sopirnya, dan kelalaian sebagai tunggangan dan kendaraannya. Pikirannya hanya untuk mendapatkan dunia yang menipu ini dan dibuat mabuk oleh nafsu untuk mendapatkannya.

Ia tidak pernah meminta kepada Allah kecuali dari tempat yang jauh. Tidak membutuhkan nasihat-nasihat dan selalu mengikuti langkah-langkah syetan yang selalu merayu dan menggodanya

Maka bergaul dengan orang seperti ini akan mencelakakan kita, berkawan dengannya akan meracuni kita, dan duduk dengannya akan membinasakan kita

3. Hati Yang Sakit

Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala juga berbuat maksiat, dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling berusaha untuk mengalahkannya

Hati jenis ini, mencintai Allah, iman kepada-Nya beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dan tawakkal kepada-Nya, itu semua selalu dilakukannya tetapi ia juga mencintai nafsu syahwat dan kadang-kadang sangat berperan dalam hatinya serta berusaha untuk mendapatkannya

Hasad, sombong (dalam beribadah kepada Allah), ujub, dan terombang-ambing antara dua keinginan yaitu keinginan terhadap kenikmatan kehidupan akhirat serta keinginan untuk mendapatkan gemerlapnya dunia. Maka hati yang pertama hidup, tumbuh, khusyu’ dan yang kedua layu kemudian mati. Adapun yang ketiga dalam keadaan tidak menentu, apakah akan hidup ataukah akan mati. Kemudian banyak sekali orang yang hatinya sakit dan sakitnya bahkan semakin parah, tetapi tidak merasa kalau hatinya sakit, bahkan sekalipun telah mati hatinya tetapi tidak tahu kalau hatinya telah mati.

Wallahu a’lam bishshowwab

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TAWAKKAL

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. “ (QS. Al – Ahzab : 33)
Ber-Tawakkal kepada Allah (tawakkal ‘Alallah), merupakan perintah yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an, di samping perintah-perintah lainnya seperti bertaqwa, bersabar, beristiqomah, ikhlas dan beribadah, ridho dalam menerima ketetapan Tuhan, berlaku adil, berjihad pada jalan-Nya, berkurban dan lain-lain.
Arti dan Makna
Tawakal (bahasa Arab: tawakkul) berarti mewakilkan atau menyerahkan. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Tawakkal adalah buah dari keimanan. Setiap orang yang beriman akan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan akan ridha dengan segala kehendak-Nya. Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala kejutan. Hatinya tenang dan tenteram, karena yakin akan keadilan dan rahmat Allah SWT. Oleh sebab itu Islam menetapkan bahwa iman harus diikuti oleh sikap tawakkal. Allah SWT berfirman :
“…… dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Maidah : 23)
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Tawakkal dan Ikhtiar
Tawakkal harus diawali dengan tekad yang bulat (azzam), kerja keras dan usaha maksimal. Kerja keras dan usaha maksimal inilah yang disebut dengan ikhtiar. Tidaklah dinamai tawakkal jika tanpa disertai ikhtiar yang hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa. Sikap pasrah seperti itu adalah salah satu kesalahpahaman terhadap hakikat tawakkal.
Ikhtiar harus dilakukan dalam setiap dimensi kehidupan seorang muslim, ketika bekerja, menuntut ilmu, sampai ibadah yang diniatkan untuk mendapat keridhoan Allah SWT. Bahkan ketika seorang berdosa yang kemudian bertaubat, ia harus berikhtiar sekuat tenaga untuk memperbaiki dirinya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar taubatnya diterima.
Sedangkan kebulatan tekad (azzam), dapat menentukan tingkat kualitas pekerjaannya. Semakin kuat azzam seseorang, maka usahanya akan semakin kuat, sebaliknya jika azzamnya lemah, maka usahanya juga tidaka akan maksimal.
“….kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)
Jangan bertawakkal pada ikhtiar
Sekalipun kita diharuskan melakukan ikhtiar sebelum bertawakkal, untuk mengikuti hukum sebab akibat, tetapi kita tidak boleh bertawakkal pada ikhtiar. Karena dalam ber-ikhtiar, seorang muslim harus selalu diniatkan karena Allah semata.
Janganlah seperti orang-orang kafir yang bertawakkal pada ikhtiarnya. Inilah letak perbedaan yang jelas antara seorang muslim dengan seorang kafir yang sama-sama berusaha mencari rizki. Seorang muslim ketika dia telah berusaha sekuat tenaganya, maka ia akan menyerahkan segala hasil dari kerja kerasnya kepada Tuhannya dengan bertawakkal, karena dari awal memang diniatkan karena Allah SWT.. Sedangkan seorang kafir, dia akan bertawakkal pada hasil usahanya.
“ (Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (QS. At-Taghabun : 13.)
Contoh tawakkal
Contoh tawakkal adalah, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, “Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah”. Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, “Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal.” (Al-Hadits)
Kondisi Derajat Tawakkal
Ditinjau dari segi kekuatan dan kelemahan maka, kadar tawakkal ada tiga tingkatan :
1. Tingkatan pertama, keadaan benar-benar yakin terhadap penyerahannya kepada Allah dan pertolongan-Nya. Seperti keadaanya yang yakin terhadap orang yang ditunjuk sebagai wakilnya. Untuk memilih wakil harus selektif melalui proses pemikiran dan pertimbangan.
2. Tingkatan kedua, (tingkatan ini lebih kuat lagi), yaitu keadaanya bersama Allah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya. Anak itu tidak melihat orang lain selain ibunya dan tidak mau berpisah dan senantiasa bergelayut memegangi tangan ibunya. Tidak mau bersandar kecuali kepada ibunya sendiri. Jika ia menghadapi suatu masalah, maka pertama sekali yang terlintas dalam hatinya dan yang pertamakali terlontar dari lidahnya adalah ucapan “ibu”. Siapa yang pasrah kepada Allah, memandang dan bersandar kepada-Nya, maka keadaanya seperti keadaan anak kecil dengan ibunya, kepasrahan anak kecil kepada ibunya tidak berdasarkan pemikiran dan pertimbangan, hanya kepercayaan yang penuh dan bulat.
3. Tingkatan ketiga, (tingkatan paling tinggi) keadaannya dihadapan Allah seperti mayit ditangan orang yang memandikannya. Dia tidak berpisah dengan Allah melainkan dia melihat dirinya seperti orang mati.
Hikmah tawakkal
Manfaat dari tawakkal adalah sebagai berikut :
1. Iman semakin mantap, qalbu tenang, jiwa tenteram, berfikir jernih, pandangan jauh dan dalam bertindak terarah dan terbimbing.

“Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang yang dikehendaki-Nya” (QS. At Thalaq 33).

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya” (QS. An Nahl:99)

2. Mendapat jaminan kecukupan rizki dari Allah

“Dan tidak ada satu binatang melatapun dimuka bumi ini melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.”(Qs. Hud:6)

3. Ridho terhadap ketetapan (qadar) Allah, jauh dari tamak dan hasud.
Penutup
Demikianlah, bagaimana Allah mengajarkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berusaha dalam hidup, kemudian bertawakkal pada-Nya. Cukup hanya kepada Allah sajalah kita mengharap setiap balasan dari setiap amaliyah yang kita lakukan, untuk mendapat keridhoan serta rahmat dari-Nya, sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, sesuai firman Allah SWT :

”……Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath – Thalaq : 3)
Wallahua’lam bishshowwab

Dalil dalam Al-Qur’an tentang Tawakkal : 3:122, 3:159, 3:160, 3:173, 4:81, 5:11, 5:23, 7:89, 8:2, 8:49, 8:61, 9:51, 9:59, 9:129, 10:71, 10:84, 10:85, 11:56, 11:88, 11:123, 12:67, 13:30, 14:11, 14:12, 16:42, 16:99, 25:58, 26:217, 27:79, 29:59, 33:3, 33:48, 39:38, 42:10, 42:36, 58:10, 60:4, 64:13, 65:3, 67:29, 73:9

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

SERI SYARAH HADITS ARBA’IN

Hadits Ke-1

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)[1]
Kedudukan Hadits
Materi hadits pertama ini merupakan pokok agama. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ada Tiga hadits yang merupakan poros agama, yaitu hadits Úmar, hadits Aísyah, dan hadits Nu’man bin Basyir.” Perkataan Imam Ahmad rahimahullah tersebut dapat dijelaskan bahwa perbuatan seorang mukallaf bertumpu pada melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Inilah halal dan haram. Dan diantara halal dan haram tersebut ada yang mustabihat (hadits Nu’man bin Basyir). Untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dibutuhkan niat yang benar (hadits Úmar), dan harus sesuai dengan tuntunan syariát (hadits Aísyah).
Setiap Amal Tergantung Niatnya
Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.
Fungsi Niat
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untukmembedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.
Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:
1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqoha’.
2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai berikut:
a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
 Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
 Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.
c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.
Beribadah dengan Tujuan Dunia
Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syariát menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.
Hijrah
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.
Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. Meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.
Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.
________________________________________
Catatan Kaki:

[1] Terdapat artikel lainnya khusus untuk hadits ke-1 ini, silahkan klik disini.

Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh – http://muslim.or.id
Penyusun: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)
________________________________________
Dikutip dari Haditsweb :Http://Opi.11omb.com/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

JAM’UL QUR’AN (MASA DIBUKUKANNYA AL – QUR’AN)

DIBUKUKANNYA AL – QUR’AN
(JAM’UL QUR’AN)

MAKNA JAM’UL QUR’AN
Jam’ul Qur’an (Pengumpulan Al–Qur’an) oleh para ulama diartikan menjadi dua makna:
1. Pengumpulan dalam arti Hifzuhu (menghafal dalam hati)
Rasulullah SAW adalah penghafal Qur’an pertama dan contoh paling baik bagi sahabat dalam menghafal Qur’an, sebagai realisasi dari kecintaan mereka terhadap pokok agama dan sumber risalah. Para sahabat selalu berkompetisi dalam menghafal Qur’an, bahkan memerintahkan anak dan istrinya dalam mengahafalnya. Mereka membaca dalam Qiyamul–lail, sehingga dari rumah mereka suara bacaan Al–Qur’an terdengar seperti suara lebah.
Sahabat yang terkenal dalam bidang hafalan Qur’an (hafidz) ada 7 orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Mua’qqil, Muadz bin Jabal, Ubay Bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sukun, dan Abu Darda’. Hal ini disebutkan dalam tiga dari dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di bawah ini:
1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As berkata: “ Aku mendengar Rasulullah berkata: ‘Ambillah Al–qur’an itu dari empat orang: Abdullah Bin Mas’ud, Salim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.”’
2. Dari Anas berkata: ”Rasulullah wafat sedang qur’an belum dihafal kecuali oleh empat orang: Abu Darda, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabin dan Abu Zaid.”
2. Pengumpulan dalam arti Kitabatuhu kullihi (penulisan Al–qur’an keseluruhan)
Pengumpulan Al-qur’an terdiri tiga periode, yaitu Masa Rasulullah SAW, Masa Khalifah Abu Bakar dan Masa Khalifah Utsman Bin Affan.
Pengumpulan pada Masa Rasulullah SAW
Rasulullah telah mengangkat para sahabat sebagai penulis wahyu. Diantara mereka adalah ‘Ali, Muawiyah, Ubay Bin Ka’ab dan Zaid Bin Tsabit. Bila turun ayat, Rasulullah memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam suatu surat. Hal itu sesuai dengan anjuran Jibril ‘alaihissalam. Para sahabat menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun, pelana atau potongan tulang binatang. Karena keterbatasan media, sehingga pada masa itu Al–qur’an belum rapi dan belum berbentuk mushaf.
Pengumpulan pada Masa Khalifah Abu Bakar
Penulisan Al–qur’an pada masa Abu Bakar adalah dalam rangka menjaga keutuhan Al–qur’an agar tidak hilang, seiring dengan banyaknya para penghafal Al–qur’an yang syahid di medan perang.
Abu Bakar menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW. Ia dihadapkan pada peristiwa–peristiwa berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang yang murtad itu. Perang Yamamah terjadi pada tahun ke 12 hijriah melibatkan sejumlah besar penghafal Al–qur’an. Dalam peperangan ini sejumlah 70 penghafal Al–qur’an gugur.
Dengan kejadian tesebut, Umar bin Kahattab merasa khawatir jika peperangan di tempat lain akan membunuh banyak penghafal Al–qur’an. Ia lalu menghadap kepada Abu Bakar untuk mengajukan usul agar mengumpulkan dan membukukan Al–qur’an, karena dikhawatirkan akan musnah.
Abu Bakar menolak usulan ini karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tatapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah SWT membuka hati Abu Bakar untuk menerima usdulan tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk melakukan tugas tersebut. Pada awalnya Zaid menolak, keduanya bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan itu. Zaid memulai tugas beratnya dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para penghafal dan catatan yang ada pada penulis. Kemudian lembaran–lembaran tersebut disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 Hijriah, kemudian berpindah ke tangan Umar hingga ia wafat. Kemudian berpindah ke tangan Hafsah, putri Umar. Pada permulaan kepemimpinan Khalifah Utsman, Utsman memintanya dari tangan Hafsah.
Pengumpulan pada Masa Khalifah Utsman bin ‘Affan
Penulisan pada masa Usman terjadi pada tahun 25 Hijriah. Penulisan pada masa ini adalah dalam rangka menyatukan berbagai macam perbedaan bacaan yang beredar di masyarakat saat itu. Ketika terjadi perang Armenia dan zarbaijan dengan penduduk Irak, di antara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara–cara membaca Al–qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing–masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang dilihatnya.
Dengan keadaan demikian, Utsman pun khawatir bahwa akan adanya perbedaan bacaan pada anak–anak nantinya. Para sahabat memprihatinkan kenyataan karena takut kalau ada penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran–lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran–lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf.
Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf yang ada padanya. Kemudian Utsman membentuk panitia yang beranggotakan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir adalah suku Quraisy. Lalu memerintahkan mereka untuk memperbanyak mushaf. Nasehat Utsman kepada mereka:
1. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al–qur’an
2. Jika ada perselisihan di antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan dalam dialek suku Quraisy, sebab Al–qur’an diturunkan menurut dialek mereka .
Mereka melaksanakan perintah tersebut. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran asli kepada Hafsah. Al–qur’an yang telah dibukua dinamai dengan “Al – Mushaf”, dan panitia membuat lima buah mushaf. Empat di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah, agar di tempat – tepat itu disalin pula, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai Mushaf “Al–Imam”, dan memerintahkan agar semua Al–qur’an atau mushaf yang ada dibakar.
Dengan demikian, dibukukannya Al–qur’an di masa Utsman manfaatnya yang utama adalah:
1. menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan dan tulisannya.
2. menyatukan bacaan, dan kendatipun masih ada kelainan bacaan, tetapi tidak tidak bertentangan dengan ejaan mushaf–mushaf Utsman.
3. menyatukan tertib susunan surat–surat.
Sebab–sebab Al–qur’an belum dibukukan semasa Rasulullah SAW hidup
Sebab–sebab mengapa Al–qur’an belum dibukukan pada masa Nabi saw masih hidup adalah:
1. Al–qur’an diturunkan secara berangsur–angsur dan terpisah–pisah.
2. Sebagian ayat ada yang dimansukh. Mansukh dan nasikh adalah menurut para ulama salaf pada umumnya adalah pembatalan hukum secara global, dan itu merupakan istilah para ulama muta’akhirin (belakangan); atau pembatalan dalalah (aspek dalil) yang umum, mutlak dan nyata. Pembatalan ini dapat berupa pengkhususan atau pemberian syarat tertentu, atau mengartikan yang mutlak menjadi yang terikat dengan suatu syarat, menafsirkannya dan menjelaskannya.
3. Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya.
4. Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasulullah adalah sangat dekat.
Demikianlah periode masa dibukukannya Al–qur’an, sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan sampai dengan Al–qur’an yang ada pada sekarang. Bahkan sampai saat ini, dengan adanya mushaf Al–qur’an, Al–qur’an menjadi satu–satunya buku yang paling banyak dihafal oleh manusia di dunia, baik sebagian maupun keseluruhan isinya. Sehingga keberadaan dan kemurnian Al–qur’an akan selalu terjaga sampai hari kiamat sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al – qur’an, dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya.”. (Qs. Al–Hijr : 9)

Allahua’lam bishshowwab

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar