AKHLAQ MANUSIA KEPADA ALLAH SWT

AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT

Definisi dan Pembagian akhlaq
Dalam bahasa Arab akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at . Berakar dari kata kholaqo yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata Khaliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan).
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai yang hakiki manakala tindakan atau perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Sang Khaliq. Jadi akhlaq bukan saja mengatur tata aturan atau norma yang mengatur hubungan antara sesama manusia (hablumminannas), tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablumminallah), bahkan dengan alam semesta yang dibagi menjadi enam, yaitu: akhlaq terhadap Allah SWT, akhlaq terhadap Rasulullah saw, akhlaq terhadap pribadi, akhlaq dalam keluarga, akhlaq bermasyarakat, dan Akhlaq bernegara.
Akhlaq Terhadap Allah SWT
Akhlaq yang harus ditumbuhkan dalam diri seorang muslim terhadap Sang Khaliq yaitu :
1. TAQWA
Definisi taqwa yang paling populer adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah–Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Atau lebih ringkas lagi mengikuti segala perintah allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Firman Allah dalam QS. Al – Baqoroh ayat 2–4 :
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”
Dari ayat di atas empat kriteria orang bertaqwa, yaitu : beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, menafkahkan sebagian dari rizki yang diberikan oleh Allah SWT, beriman pada Al-qur’an, dan beriman pada hari akhir. Dalam ayat lain di surah Ali Imran juga disebutkan kriteria orang bertaqwa antara yaitu : dermawan, mampu menahan amarah, pemaaf, dan taubat dari segala kesalahannya.
Taqwa adalah sesuatu yang harus melekat pada diri seorang muslim agar dia terlihat berbeda di mata Allah. Dalam Al–qur’an surah Al–hujurat ayat 13 telah disebutkan bahwa yang membuat seorang menjadi berbeda diantara hamba–hamba–Nya di mata Allah bukanlah karena kedudukan dan jabatan, bukan pula karena kecantikan dan kekayaan, tetapi karena ketaqwaannya. Itulah keutamaan taqwa.
2. CINTA DAN RIDHA
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang. Bagi seorang mukmin, cinta, pertama dan utama diberikan kepada Allah SWT. Allah yang lebih dicintai dari pada segala–galanya. Firman Allah:
…      …
“…Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (QS.Al – Baqarah : 165)
Konsekwensi dari cinta kepada Allah SWT adalah, seorang muslim harus ridha kepada–Nya. Ridha dengan segala aturan dan keputusan–Nya atas dirinya. Artinya dia menerima sepenuh hati tanpa penolakan sedikitpun segala yang datang dari Allah dan Rasul–Nya, baik berupa perintah, larangan ataupun petunjuk. Dia juga akan menerima qadha dan qadar Allah terhadap dirinya, bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar atas cobaan dari Allah SWT.
3. IKHLAS
Ikhlas adalah beramal yang semata–mata mengharap ridha Allah, tanpa pamrih atau mengharapkan pujian dari orang lain. Aktivitas apapun jika diniatkan ikhlas karena Allah akan bernilai ibadah dan mendapatkan pahala. Oleh karena itu niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang itqan atau sebaik–baiknya walaupun tanpa imbalan. Semua dilakukan karena mengharap ridha dari Allah semata.
Lawan ikhlas adalah riya, yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji atau karena pamrih lainnya. Seorang yang riya adalah orang yang ingin memperlihatkan kepada orang lain kebaikan yang dilakukannya. Niatnya sudah bergeser bukan lagi mencari keridhaan Allah, tapi mengharapkan pujian orang lain. Rasulullah menamakan riya ini dengan syirik kecil, dalam sebuah hadits bahkan Beliau mengumpamakan syirik kecil ini akan menghapus amalan seseorang seperti api memakan kayu bakar.
4. KHAUF DAN RAJA’
Khauf dan Raja’ atau rasa takut dan harap adalah dua sikap yang harus dimiliki seorang muslim. Bila salah satu dominan akan melahirkan peribadi yang tak seimbang. Dominasi khauf akan menyebabkan sikap pesimisme dan putus asa, sementara dominasi raja’ menyebabkan seseorang lalai dan lupa serta aman dari adzab Allah.
Oleh karena itu dua sikap ini harus sama–sama ditumbuhkan sebagai akhlaq kepada Allah dalam diri seorang muslim, agar tidak mudah putus asa dan juga lalai, sehingga menjadi pribadi optimis dan juga mawas diri.
5. TAWAKAL
Tawakal adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan dan menyerahkan segala keputusannya kepada Allah . Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Seseorang belum dikatakan tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa–apa. Sikap pasrah tersebut yang sering disalahartikan terhadap hakikat tawakal.
Ketika seorang sudah berikhtiar, dia tidak boleh bertawakal pada ikhtiarnya itu. Di sinilah bedanya seorang muslim dengan seorang kafir. Kedua–duanya sama–sama berikhtiar, tetapi yang pertama bertawakal kepada Allah SWT, sedangkan yang kedua bertawakal kepada ikhtiarnya.

6. SYUKUR
Syukurnya seorang hamba terdiri atas tiga unsur, yang apabila tidak lengkap unsur tersebut maka seseorang belum dikatakan bersyukur, yaitu: mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana taat kepada Allah. Jadi syukur itu berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Hati untuk ma’rifah dan mahabbah, lisan untuk memuja dan menyebut nama Allah, dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima sebagai sarana untuk menjalankan ketaata kepada Allah SWT dan menahan diri dari maksiat kepada–Nya .
Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bersyukur kepada–Nya Firman Allah :
      .
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al – Baqarah : 152)
Manusia diperintahkan bersyukur bukanlah untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Seperti firman Allah dalam surat Luqman ayat 12 berikut :
        •   
“…Dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
7. MURAQABAH
Muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Kesadaran itu lahir dari keimanannya bahwa Allah SWT dengan sifat ‘ilmu, bashar dan sama’ (mengetahui, melihat dan mendengar) mengetahui apa saja yang dilakukan hamba-Nya. Kesadaran seorang muslim akan pengawasan Allah SWT akan mendorongnya untuk melakukan muhasabah (evaluasi terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap hatinya sendiri). Dalam hal ini muraqabah berfungsi sebagai jalan menuju muhasabah.
Muhasabah akan memberikan banyak manfaat bagi seorang muslim, antara lain pertama, untuk mengetahui kelemahan diri agar dapat memperbaikinya, kedua untuk mengetahui hak Allah, dan ketiga untuk mengurangi beban hisab di akhirat kelak.
8. TAUBAT
Taubat berakal dari kata taba yang berarti kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah SWT adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu. Taubat yang sempurna harus memiliki lima dimensi, yaitu: menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, memohon ampun kepada Allah, berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan, dan menutupi kesalahan masa lalu dengan amal sholeh. Kebaikan yang dilakukan setelah bertaubat akan menghapus keburukan pada masa lalu. Rasulullah saw bersabda :
“Bertaqwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, dan iringilah perbuatan jahat dengan perbuatan baik, maka kebaikan itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan ahlaq yang baik.” (HR.Tirmidzi)
Taubat yang memenuhi lima dimensi tersebutlah yang disebut dengan taubat yang sempurna atau dalam bahasa Al–Qur’an, disebut dengan taubat nashuha seperti yang tersebut dalam QS. At–Tahrim ayat 8.
Penutup
Demikianlah beberapa akhlaq yang mestinya ada dan tumbuh dalam diri seorang hamba kepada Tuhannya. Karena dengan menumbuhkan dan memelihara akhlaq inilah, kelak Allah SWT akan menjaga seseorang dari adzab neraka jahannam. Namun, akhlaq kepada Allah ini juga harus sejalan dengan Akhlaq kepada Rasulullah, diri sendiri, keluarga, masyarakat serta negara. Karena sejatinya, akhlaq adalah cerminan dari ibadah seseorang. Jika ibadahnya baik, diharapkan akhlaqnya terhadap sesama juga semakin baik. Sehingga ittiba’ kepada Rasulullah bukan hanya dalam hal ibadah saja, tetapi juga selalu meneladani akhlaq Beliau. Sebab karena akhlaqlah Rasulullah saw diutus.
Wallahu a’lam bishshowwab.

Tentang mitsubit

I'm a worker and student
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s